Ulama, Negarawan, dan Teladan Integritas
Namun, jasa Natsir tidak berhenti pada politik. Sejak muda, ia memilih jalannya sendiri: pendidikan. Ia pernah mengajar tanpa bayaran sepeser pun, karena baginya mencerdaskan generasi jauh lebih mulia daripada mengejar kenyamanan hidup. Dari ruang kelas sederhana di Bandung hingga ke panggung politik nasional, ia menanamkan pesan penting: Islam dan ilmu pengetahuan bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan bisa berjalan seiring untuk membangun peradaban.
Sebagai Ketua Partai Masyumi, Natsir memimpin umat Islam dengan visi besar: persatuan. Ia tidak pernah menjadi tokoh yang eksklusif atau sempit pandangannya. Justru, ia mampu merangkul perbedaan dan menghargai lawan politiknya. Konon, dengan D.N. Aidit tokoh besar PKI sekaligus lawan ideologisnya Natsir masih bisa duduk di kantin DPR, berbincang, bahkan tertawa bersama. Itulah wajah politik sehat yang jarang kita temui hari ini: perbedaan tidak menghalangi persahabatan dan rasa hormat.
Di level internasional, Natsir menjelma sebagai jembatan Indonesia dengan dunia Islam. Ia aktif di Liga Muslim Dunia, terlibat dalam perjuangan Palestina, dan menjadi suara yang disegani di Timur Tengah. Nama Indonesia harum di mata dunia Islam berkat peran diplomatiknya. Ia bukan sekadar politisi dalam negeri, melainkan tokoh global yang membawa identitas bangsa dengan martabat tinggi.
Di balik kiprahnya yang mendunia, Natsir justru dikenal karena kesederhanaannya. Ia hidup jauh dari kemewahan. Jas yang dipakainya bertambal, mobilnya tua, telepon rumahnya ia angkat sendiri, dan sebagian besar hartanya ia wakafkan untuk yayasan, bukan untuk keluarga. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa kekuasaan baginya adalah amanah, bukan jalan memperkaya diri. Integritas inilah yang membuat namanya tetap harum bahkan setelah puluhan tahun ia wafat.
Pemikirannya ia wariskan dalam bentuk tulisan yang masih relevan hingga kini: Capita Selecta, Islam dan Kristen di Indonesia, hingga Mempersatukan Umat. Lewat karya-karya itu, ia menunjukkan kecerdasannya dalam memadukan Islam, modernitas, dan kebangsaan Indonesia sesuatu yang terus menjadi tantangan kita di era sekarang.
Tak bisa dipungkiri, perjalanan hidupnya juga penuh ujian. Ia pernah dikucilkan dari politik, bahkan dipenjara karena kritiknya terhadap penguasa. Tetapi justru dari sana martabatnya semakin tegak: ia memilih tetap menjadi tokoh moral bangsa, tidak tergoda kompromi demi jabatan.
Hari ini, ketika politik sering dipenuhi dengan perebutan kekuasaan, warisan Natsir terasa semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang hidup sederhana, berpikir besar, dan bekerja tulus untuk bangsanya. Dari jas bertambal hingga Mosi Integral, dari ruang kelas kecil hingga panggung internasional, jejak Mohammad Natsir menegaskan bahwa kepemimpinan bukan tentang kemegahan, melainkan tentang pelayanan.
Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: di tengah situasi bangsa saat ini, adakah kita masih menemukan pemimpin dengan integritas seperti Natsir? Jika tidak, setidaknya kita bisa terus merawat teladannya menjadikannya inspirasi untuk membangun Indonesia yang jujur, bersatu, dan bermartabat.
